Menikmati Sensasi 'Ngeteh"ala Garut di Mooi Tea



Keelokan Garut tidak hanya menjadi buah bibir wisatawan masa kini namun ternyata sudah terkenal sejak masa pendudukan Hindia Belanda tempo dulu. Lansekap tanah dan pemandangan  yang indah menjadikan para ‘meneer’ dan ‘noni’ Belanda menjuluki tanah ini dengan istilah ‘ Garut Mooi’ atau Garut yang elok.
Apa yang sebenarnya menjadikan Garut sebagai  destinasi dan eksplorasi para meneer Belanda saat itu? Tidak lain  karena potensi alam yang mampu menghasilkan komoditas tanaman bernilai pundi-pundi Gulden seperti teh, kopi dan kina.




Dua, dari tiga komoditas perkebunan yang disebut di atas, adalah teh yang memiliki sejarah panjang, yang dalam perjalanannya menurunkan  sebuah nilai kearifan lokal berupa tradisi minum teh’Nyaneut’. Tradisi ngeteh ini berkembang pada masyarakat sekitar pegunungan Cikuray, seperti di daerah Cilawu,Cisurupan, Cikajang, Cigedug, Singajaya hingga Banjarwangi. Namun daerah  yang sampai saat ini melestarikan tradisi ngeteh ini adalah daerah Cigedug, melalui Nyaneut Festival
Menurut Dasep Badrussalam,founder Nyaneut Festival, bahwa ada sebuah tata nilai masyarakat masa lalu berkenaan dengan minum teh.

‘Dulu,masyarakat  di daerah lereng pegunungan Cikuray  jika seseorang bertamu,dan tidak disuguhi minum teh,itu dianggap tidak sopan,” tutur Dasep.
Sebagai representasi dari upaya memelihara tradisi minum teh ala Garut masa lalu,beliau membuka   sebuah gerai minum teh di Jalan Terusan Pembangunan Garut dengan nama Mooi Tea yang artinya teh yang elok. Kenapa beliau memilih gerai teh, ditengah gempuran cafe yang menyajikan cita rasa kopi Garut?
‘Teh adalah bagian dari sejarah Garut,sama halnya  seperti kopi. Ini adalah upaya dalam ikut menjaga tradisi dan budaya sekaligus ikut  dan meningkatkan keberlangsungan hidup para  petani teh,” ungkap pria asal Cigedug ini.
Kang Dasep dan Gerai Mooi Tea nya

‘Minum teh itu selain meningkatkan semangat juga menyehatkan,dibandingkan minuman lainnya,”tuturnya lagi.
Sebagai mana diketahui,jika keberadaan perkebunan teh di Garut,khusususnya di sekitar lereng Gunung Cikurai terus mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan sayur mayur.Jika halnya demikian, akan bagaimana nasib para pemetik teh tersebut. Dasep pun merasa prihatin atas keberlangsungan hidup para pemetik teh jika tidak dibantu dalam memasarkan produk teh nya dengan cara membuka Mooi Tea.
Berkunjung ke Mooi  Tea, anda akan disuguhi suasana cafe  yang homy dan santai.Minuman utama yang disajikan ,tentunya bukan yang lain tetapi berbagai jenis teh berkualitas.Untuk kategori Original Tea anda dapat memesan Black Tea, Green Tea dan White Tea. Kisaran harga pe porsi ukuran gelas besar atau teko 300 ml dibandrol Rp.8000 untuk Jenis Black Tea & Green Tea. Sedangkan untuk jenis White Tea Rp. 15.000.
Kenapa jenis White Tea,lebih mahal? Menurut Dasep, memetik  pucuk teh White Tea memerlukan keuletan dan kesabaran ekstra. Jam petik pucuk ini, yang baik adalah sekitar pukul 05.30 sampai dengan 08.00 pagi. Jika terlambat saja, maka pucuk teh yang masih berbentuk jarum perak (Silver Ridle) ini berubah mekar dan masuk dalam kategori Green tea atau Black tea. “Satu gram White Tea  hanya mampu menghasilkan sekitar 20 petik pucuk ‘Silver Ridle’ saja,”menurut pria penyuka topi laken ini menjelaskan dengan detil. Itulah kenapa jenis White Tea,lebih mahal dibandingkan Green Tea atau Black Tea.
Selain jenis Original Tea, Mooi Tea menyajikan varian teh lainnya dengan kategori Special Tea. Biasanya jenis minum ini adalah mixology dari original tea dengan jenis bunga-bungaan atau buah-buahan lainnya.Untuk Special Tea yang ada di sini anda dapat mencicipi sajian Lemon Tea, Blue Tea, Purple Tea,Rose Tea,Chamomile dan Manggo Tea.
Untuk menyasar pasar millenial, Dasep lebih menyajikan teh dengan tampilan warna seperti pada Blue Tea atau Purple Tea agar lebih menarik minat mereka untuk menyeruput teh . Sebagai contoh,  Warna ungu pada Purple Tea karena reaksi antara teh dan bunga Telang Ungu (Clitoria ternatea). Selain indah,bunga ini mempunyai berbagai macam khasiat untuk kesehatan tubuh.
Bunga Telang Ungu (Clitoria ternatea)

Menyeruput teh  apalagi disertai penganan tradisional ala Garut seperti burayot,awug,kue balok merupakan sebuah perpaduan pas yang dapat anda nikmati di Mooi Tea . Untuk wisawatan yang berkunjung ke Garut, silahkan mampir ke Mooi Tea, Jalan Terusan Pembangunan,Tarogong  Garut dan nikmati sensasi ngeteh ala Garut.(KI)


5 Tips Liburan Nyaman Saat Musim Hujan


Keadaan cuaca menjelang akhir tahun sampai dengan awal tahun biasanya masih didominasi oleh musim penghujan. Namun, keinginan berlibur mengunjungi detinasi wisata tentu tidak terbentur pada keadaan cuaca. .Kekhawatiran akan informasi cuaca ekstrim dan lain-lain,yang sampai membatalkan rencana yang sudah disusun, adalah bukan sebuah keputusan tepat. Cara bijaksana dalam menyikapi rencana liburan di saat iklim ekstrim adalah mempersiapkan rencana dengan matang. Berikut kami ini tips ringan berlibur pada saat musim hujan

1. Tentukan Destinasi

Ini adalaha langkah penting sebelum persiapan lainnya. Pastikan destinasi yang dipilih adalah destinasi yang aman untuk kunjungan pada saat musim hujan. Jika telah memilih destinasi wisata outdoor atau adventure trip, mungkin dapat segera dirubah kepada destinasi wisata yang memiliki cuaca lebih cerah atau destinasi dengan venue tertutup.




2. Mempersiapkan Perlengkapan


Berwisata di musim penghujang memerlukan persiapan yang ekstra.Ini tidak lain karena kondisi cucac yang dapat mempengaruhi kondisi tubuh kita. Bawalah perlengkapna pakaian yang hangat, jas hujan,payung,sepatu anti selip .Anda dapat mencarinya di toko perlengkapan outdoor gear  Hal lain yang penting adalah menyiapkan obat-obatan dan vitamin untuk jaga-jaga jika terjadi kondisi yang tidak baik bagi tubuh .

3. Persiapkan Dana Extra

 Selain bujet yang sudah direncanakan, tentunya dana ekstra perlu disiapkan diluar bujet utama. Hal ini untuk menjaga-jaga jika terjadi hal diluar rencana atau jika terjadi hal yang disebut force majeur. Jika jarak dan lokasi wisata biasanya dapat ditempuh kendaraan langsung roda empat, namun karena ada hal lain karena kondisi alam yang mengharuskan ditempuh dengan ojek , maka tentunya dana yang dilkeluarkan akan lebih besar.


4. Pilih Destinasi Langsung

Memilih destinasi wisata  langsung pada saat musim hujan adalah cara yang bijak untuk mengurangi resiko delayed. Jika anda menggunakan moda transportasi udara, pilihlah penerbangan langsung ke destinasi wisata, untuk mengurangi resiko delayed karena faktor cuaca. Demikian juga dengan moda transportasi darat seperti kereta api atau bus,hendaknya mencari perjalanan langsung untuk mengurangi keterlambatan karena faktor cuaca buruk.


5. Kuliner Hangat

Hujan-hujan memang sangat tepat jika  mencari destinasi kuliner yang menghangatkan tubuh . Kuliner berkuah,seperti soto,sop,baso atau minuman hangat seperti wedang jahe,bajigur,sekoteng dan lainnya dapat menjadi referensi kuliner anda di musim hujan agar badan anda tetap hangat dan fit selama berlibur.
Happy traveling!  (KI)


Menyingkap Tabir Asal -Usul Nama Garut

Babancong-Sebuah Saksi Sejarah Garut

Membahas kota Garut,selalu ada cerita seru dan menggelitik  untuk dikupas. Semua tidak lepas dari sejarah yang panjang tentang asal berdirinya kota yang pernah disinggahi oleh pesohor Holywood masa lalu, Charlie Chaplin .Dari sinilah sebenarnya cikal bakal, bagaimana  wisata di kota ini mulai tumbuh hingga pesat seperti sekarang. Garut? Ya...Garut, terdiri dari dua suku kata ga -rut. Apa artinya Garut ? Apakah cuma nama saja tanpa makna? Ataukah memang kebetulan saja? 
Rasa penasaran tumbuh dari benak penulis yang memang tinggal di kota Intan ini. Tidak semata-mata muncul nama itu jika tidak ada sejarah yang mendahuluinya. Dari teori toponimi salah satu muncul nama tempat adalah berdasarkan asosiasi dan kejadian sejarah. 
Berbagai sumber literasi sejarah dan catatan kebudayaan silam, Sejarah Garut dimulai sejak zaman kolonial Belanda, pada tahun 1811. Pada saat itu,peran adipati atau bupati, mempunyai peranan sentral dalam peta pemerintahan di daerah,karena langsung dalam penguasaan Gubernur Jendral Hindia Belanda.
Awalnya kabupaten Garut tempo dulu beribu kota di Limbangan.Saat ini Limbangan justru menjadi sebuah kecamatan di wilayah Garut Utara,tepatnya jalur jalan raya Bandung-Tasikmalaya. 
Pada saat itu Gubernur Jenderal Daendels tengah melakukan pembubaran Kabupaten Limbangan dengan alasan karena penurunan produksi kopi dari daerah ini turun drastis. Untuk menutupi produksi kopi yang turun,Daendels memerintahkan bupati Limbangan,  RAA Adiwijaya (1813-1831) untuk menanam nila (indigofera ) atau pohon Tarum (Sunda) ,sejenis tanaman  polong-polongan   penghasil warna biru untuk batik. Sang bupati kala itu, menolak perintah Gubernur Jenderal dengan alasan tidak mau memberatkan rakyatnya.
Sekitar tahun 1813,terjadi pergantian Gubernur Hindia Belanda,dari Daendels ke Raffles.Kemudian Raffles mengeluarkan sebuah surat keputusan pembentukan kembali Kabupaten Limbangan yang ibukotanya dialihkan ke daerah Suci (sekarang di sekitar Jl.Jend Sudirman).Namun untuk sebuah ibu kota kabupaten,daerah Suci tidak cukup luas dan tidak memenuhi persyaratan.


Singkat kata Bupati Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk sebuah tim khusus atau semacam panitia khusus yang ditugaskan untuk mencari daerah yang pas untuk ibukota kabupaten Limbangan. Kemudian rombongan panita tersebut pada awalnya menemukan sebuah daerah di Cimurah,sebuah perkampungan  sebelah timur daerah Suci, namun di daerah ini air bersih sulit ditemukan dan tidak cocok untuk sebuah ibu kota (daerah ini sekarang bernama Pidayeuheun,artinya bakal kota).Selanjutnya rombongan itu menyusuri setiap daerah menuju ke arah barat dari daerah Suci sekitar 3 kilometer  perjalanan. Di daerah ini tim menemukan tempat yang cocok untuk dibuat ibu kota. Selain tanahnya subur,banyak ditemukan sumber air bersih yang mengalir ke sungai Cimanuk yang mengeliligi daerah tersebut. Pemandangan di sekitar daerah tersebut sangat indah dikeliligi oleh gunung-gunung besar seperti gunung Cikuray,Gunung Papandayan,Gunung Guntur dan Gunung Talagabodas. Maka terjadi kesepakatan untuk membuka lahan tersebut. Dalam bahasa Sunda istilah membuka lahan biasa disebut ngabaladah atau ngabukbak. Dalam rombongan tersebut selain panitia dari kabupaten juga terdapat beberapa orang meneer  Belanda yang ikut memantau dan membenahi secara teknis.Mungkin semacam ahli planologi (tata kota) di era sekarang.
Kota Garut dengan latar Gunung Cikurai

Pada saat ditemukan sebuah mata air berupa sebuah telaga kecil,seorang panitia tangannya tergores sebuah semak belukar berduri, dalam bahasa Sunda,istilah tergores ini disebut kakarut. Kemudian si meneer Belanda tersebut bertanya,” Kenapa tangan kamu berdarah?”.Orang yang tergores itu menjawab,”Tangan saya kakarut,tuan.”. Karena lidah bangsa Eropa tidak fasih melafalkan bahasa Sunda, maka sebutan kakarut tersebut berubah menjadi gagarut. Sejak saat itu tanaman yang berduri itu dinamai kigarut oleh rombongan pembuka lahan tersebut,dan telaga tempat ditemukannya tanaman dan sumber air tersebut dinamai CiGarut. Kini,letak telaga itu di sekitar SMP 1 dan  SMP 2, Pakuwon Garut.

Singkat kemudian,penemuan daerah tersebut selanjutnya dilaporkan kepada Adipati Adiwijaya dan atas petunjuk para sesepuh,sebuah daerah baru harus mempunyai nama yang baru agar terhindar dari musibah. Maka tercetuslah nama Garut tersebut dan disetujui oleh Bupati Limbangan itu.
Maka sejak tahun 1813 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana kota seperti alun-alun dengan babancongnya sekarang,mesjid,pendopo,kantor residence dan lain-lain. Pada tahun 1821,ibukota Kabupaten Limbangan dipindahkan dari Suci ke Garut.Selanjutnya melalui SK Gubernur Jendral Hindia Belanda No 60 tanggal 7 Mei 1913 nama kabupaten Limbangan resmi diganti nama menjadi Kabupaten Garut .Kemudian penetapan Kabupaten Garut resmi dipindahkan ke kota Garut yang baru tanggal 1 Juli 1813 dengan bupati pada saat itu RAA.Wiratanudatar (1871-1915). Sejak saat itu hingga kini, Garut memulai phase pembangunan kota dan sarana lainnya,dengan mengadopsi sistem tata kota macapat di mana bangunan pusat pemerintah, alun-alun, masjid dan penjara berada dalam satu area segi empat (papat). Dan pola sistem tata kota tersebut kita masih utuh berada di area pendopo kota Garut. Salah satu simbol sejarah titimangsa adalah bangunan yang bernama Babancong. Bangunan berbentuk limas dengan 8 tiang penyangga,sebagai sarana pidato  atau pengumuman penting para Bupati tempo dulu.
Setelah dibangunnya pusat pemerintahan, selanjutnya  terus dibangun berbagai fasilitas  wisata  seperti stasiun dan hotel untuk menampung tamu-tamu dari Eropa dan para ahli Onderneming  (perkebunan) yang dipusatkan di daerah selatan Garut. Untuk mendorong  kepentingan Hindia Belanda saat itu, maka mulai dibangunlah jalur kereta api Cibatu-Cikajang, Kereta api adalah satu-satunya  moda transportasi darat modern yang dibangun sejak dulu menjadi catatan sejarah yang penah terkubur hingga tahun 1982. Akan tetapi, kini reaktivasi jalur kereta api Cibatu Garut, mulai dibangun kembali, menghidupkan kenangan masa lalu kota yang melegenda dengan dodol nya.
Para Bupati Garut-Dulu Hingga Sekarang
Yang lampau selalu menyisakan kenangan, dan masa datang selalu membawa  harapan. Tulisan ini memberikan  renungan kepada generasi kini,bahwa kehidupan saat ini tidak dapat dilepaskan dari masa lalu dan sejarah yang panjang. Tugas kita adalah memelihara nilai-nilai literasi sejarah, falsafah  dan budaya luhur tersebut Kiranya sebagai masyarakat yang hidup damai di tatar Priangan-Tanah Pasundan-harus selalu teringat akan falsafah luhur Raja Sunda dahulu,Rakyan Darmasiksa (1175-1297) yang bertutur' Hana Nguni Hana Mangke,Tan Hana Nguni  Tan Hana Mangke" yang artinya," ada dahulu,ada sekarang,tiada dahulu tiada sekarang". 

Tentang tempat,
Tentang nama,
adalah catatan sejarah yang tak terbatas ruang dan waktu....


Sumber Tulisan: Dari berbagai literasi
Sumber Photo : Koleksi Pribadi, Dokumen Pemda Kab Garut