Menyingkap Tabir Asal Usul Nama Garut

Babancong-Sebuah Saksi Sejarah Garut

Membahas kota Garut,selalu ada cerita seru dan menggelitik  untuk dikupas. Semua tidak lepas dari sejarah yang panjang tentang asal berdirinya kota yang pernah disinggahi oleh pesohor Holywood masa lalu, Charlie Chaplin .Dari sinilah sebenarnya cikal bakal, bagaimana  wisata di kota ini mulai tumbuh hingga pesat seperti sekarang. Garut? Ya...Garut, terdiri dari dua suku kata ga -rut. Apa artinya Garut ? Apakah cuma nama saja tanpa makna? Ataukah memang kebetulan saja? 
Rasa penasaran tumbuh dari benak penulis yang memang tinggal di kota Intan ini. Tidak semata-mata muncul nama itu jika tidak ada sejarah yang mendahuluinya. Dari teori toponimi salah satu muncul nama tempat adalah berdasarkan asosiasi dan kejadian sejarah. 
Berbagai sumber literasi sejarah dan catatan kebudayaan silam, Sejarah Garut dimulai sejak zaman kolonial Belanda, pada tahun 1811. Pada saat itu,peran adipati atau bupati, mempunyai peranan sentral dalam peta pemerintahan di daerah,karena langsung dalam penguasaan Gubernur Jendral Hindia Belanda.
Awalnya kabupaten Garut tempo dulu beribu kota di Limbangan.Saat ini Limbangan justru menjadi sebuah kecamatan di wilayah Garut Utara,tepatnya jalur jalan raya Bandung-Tasikmalaya. 
Pada saat itu Gubernur Jenderal Daendels tengah melakukan pembubaran Kabupaten Limbangan dengan alasan karena penurunan produksi kopi dari daerah ini turun drastis. Untuk menutupi produksi kopi yang turun,Daendels memerintahkan bupati Limbangan,  RAA Adiwijaya (1813-1831) untuk menanam nila (indigofera ) atau pohon Tarum (Sunda) ,sejenis tanaman  polong-polongan   penghasil warna biru untuk batik. Sang bupati kala itu, menolak perintah Gubernur Jenderal dengan alasan tidak mau memberatkan rakyatnya.
Sekitar tahun 1813,terjadi pergantian Gubernur Hindia Belanda,dari Daendels ke Raffles.Kemudian Raffles mengeluarkan sebuah surat keputusan pembentukan kembali Kabupaten Limbangan yang ibukotanya dialihkan ke daerah Suci (sekarang di sekitar Jl.Jend Sudirman).Namun untuk sebuah ibu kota kabupaten,daerah Suci tidak cukup luas dan tidak memenuhi persyaratan.


Singkat kata Bupati Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk sebuah tim khusus atau semacam panitia khusus yang ditugaskan untuk mencari daerah yang pas untuk ibukota kabupaten Limbangan. Kemudian rombongan panita tersebut pada awalnya menemukan sebuah daerah di Cimurah,sebuah perkampungan  sebelah timur daerah Suci, namun di daerah ini air bersih sulit ditemukan dan tidak cocok untuk sebuah ibu kota (daerah ini sekarang bernama Pidayeuheun,artinya bakal kota).Selanjutnya rombongan itu menyusuri setiap daerah menuju ke arah barat dari daerah Suci sekitar 3 kilometer  perjalanan. Di daerah ini tim menemukan tempat yang cocok untuk dibuat ibu kota. Selain tanahnya subur,banyak ditemukan sumber air bersih yang mengalir ke sungai Cimanuk yang mengeliligi daerah tersebut. Pemandangan di sekitar daerah tersebut sangat indah dikeliligi oleh gunung-gunung besar seperti gunung Cikuray,Gunung Papandayan,Gunung Guntur dan Gunung Talagabodas. Maka terjadi kesepakatan untuk membuka lahan tersebut. Dalam bahasa Sunda istilah membuka lahan biasa disebut ngabaladah atau ngabukbak. Dalam rombongan tersebut selain panitia dari kabupaten juga terdapat beberapa orang meneer  Belanda yang ikut memantau dan membenahi secara teknis.Mungkin semacam ahli planologi (tata kota) di era sekarang.
Kota Garut dengan latar Gunung Cikurai

Pada saat ditemukan sebuah mata air berupa sebuah telaga kecil,seorang panitia tangannya tergores sebuah semak belukar berduri, dalam bahasa Sunda,istilah tergores ini disebut kakarut. Kemudian si meneer Belanda tersebut bertanya,” Kenapa tangan kamu berdarah?”.Orang yang tergores itu menjawab,”Tangan saya kakarut,tuan.”. Karena lidah bangsa Eropa tidak fasih melafalkan bahasa Sunda, maka sebutan kakarut tersebut berubah menjadi gagarut. Sejak saat itu tanaman yang berduri itu dinamai kigarut oleh rombongan pembuka lahan tersebut,dan telaga tempat ditemukannya tanaman dan sumber air tersebut dinamai CiGarut. Kini,letak telaga itu di sekitar SMP 1 dan  SMP 2, Pakuwon Garut.

Singkat kemudian,penemuan daerah tersebut selanjutnya dilaporkan kepada Adipati Adiwijaya dan atas petunjuk para sesepuh,sebuah daerah baru harus mempunyai nama yang baru agar terhindar dari musibah. Maka tercetuslah nama Garut tersebut dan disetujui oleh Bupati Limbangan itu.
Maka sejak tahun 1813 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana kota seperti alun-alun dengan babancongnya sekarang,mesjid,pendopo,kantor residence dan lain-lain. Pada tahun 1821,ibukota Kabupaten Limbangan dipindahkan dari Suci ke Garut.Selanjutnya melalui SK Gubernur Jendral Hindia Belanda No 60 tanggal 7 Mei 1913 nama kabupaten Limbangan resmi diganti nama menjadi Kabupaten Garut .Kemudian penetapan Kabupaten Garut resmi dipindahkan ke kota Garut yang baru tanggal 1 Juli 1813 dengan bupati pada saat itu RAA.Wiratanudatar (1871-1915). Sejak saat itu hingga kini, Garut memulai phase pembangunan kota dan sarana lainnya,dengan mengadopsi sistem tata kota macapat di mana bangunan pusat pemerintah, alun-alun, masjid dan penjara berada dalam satu area segi empat (papat). Dan pola sistem tata kota tersebut kita masih utuh berada di area pendopo kota Garut. Salah satu simbol sejarah titimangsa adalah bangunan yang bernama Babancong. Bangunan berbentuk limas dengan 8 tiang penyangga,sebagai sarana pidato  atau pengumuman penting para Bupati tempo dulu.
Setelah dibangunnya pusat pemerintahan, selanjutnya  terus dibangun berbagai fasilitas  wisata  seperti stasiun dan hotel untuk menampung tamu-tamu dari Eropa dan para ahli Onderneming  (perkebunan) yang dipusatkan di daerah selatan Garut. Untuk mendorong  kepentingan Hindia Belanda saat itu, maka mulai dibangunlah jalur kereta api Cibatu-Cikajang, Kereta api adalah satu-satunya  moda transportasi darat modern yang dibangun sejak dulu menjadi catatan sejarah yang penah terkubur hingga tahun 1982. Akan tetapi, kini reaktivasi jalur kereta api Cibatu Garut, mulai dibangun kembali, menghidupkan kenangan masa lalu kota yang melegenda dengan dodol nya.
Para Bupati Garut-Dulu Hingga Sekarang
Yang lampau selalu menyisakan kenangan, dan masa datang selalu membawa  harapan. Tulisan ini memberikan  renungan kepada generasi kini,bahwa kehidupan saat ini tidak dapat dilepaskan dari masa lalu dan sejarah yang panjang. Tugas kita adalah memelihara nilai-nilai literasi sejarah, falsafah  dan budaya luhur tersebut Kiranya sebagai masyarakat yang hidup damai di tatar Priangan-Tanah Pasundan-harus selalu teringat akan falsafah luhur Raja Sunda dahulu,Rakyan Darmasiksa (1175-1297) yang bertutur' Hana Nguni Hana Mangke,Tan Hana Nguni  Tan Hana Mangke" yang artinya," ada dahulu,ada sekarang,tiada dahulu tiada sekarang". 

Tentang tempat,
Tentang nama,
adalah catatan sejarah yang tak terbatas ruang dan waktu....


Sumber Tulisan: Dari berbagai literasi
Sumber Photo : Koleksi Pribadi, Dokumen Pemda Kab Garut