Copy code snippet Online Travel Agent vs Virtual Hotel ~ KaGaroet

Online Travel Agent vs Virtual Hotel


Perkembangan teknologi dan informasi yang semakin berkembang a selalu berbanding lurus dengan  prilaku konsumen, gaya hidup dan kebutuhan industy lainnya. Hal ini juga terjadi diindusty layanan jasa perhotelan (hospitality) dan industry perjalanan lainnnya.
Peluang ini dimanfaatkan oleh Creative Startup Company yang menyasar di kedua industry ini dengan menangkap sisi lain dari hukum supply dan demand dan prilaku pasar tadi. Prilaku pasar yang dimaksud adalah daitandaian dengan sikap kritis dan smartnya konsumen yang memerlukan pasokan ketersediaan kamar hotel dengan informasi yang cepat,akurat,nyaman,bersih dan lainnya. Di sisi lain,layanan digital informasi dan PMS (Property Management System) terutama dalam sistem reservasi hotel yang ada masih belum dapat mengakomodir peluang atas perubahan global tersebut.
script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">
Berangkat dari itu, maka lahirlah beberapa industry Online Travel Agent yang dasarnya adalah mengakomodir permintaan konsumen terhadap akomodasi,tiket dan layanan lainnya secara realtime.
Industry Online Travel Agent ini, mulai memainkan perannya menggeser Travel Agent Offline. Inilah titik balik menjamurnya era digital E Commerse indutry travel. Dimulai dekade 2000 an, kemunculan Agoda. Com,Booking .com yang belakangan menjadi sister companynya agoda.com, menjadi tonggak indutry OTA. Hampir seluruh layanan akomodasi di penjuru dunia baik hotel jaringan internasional maupun lokal,juga independen,nyaris kini mempunyai layanan OTA bekerjasama dengan Agoda dan Booking.com.
Setelah itu,kini industry  startup lain muncul ikut meramaikan pie ini dengan kemunculan  Pegi-Pegi,Tiket.com,Trivago,Misteraladin dan yang membanggakan adalah lahirnya startup lokal karya anak bangsa bernama Traveloka. Kini, market share Traveloka nyaris mendominasi smeua layanan OTA untuk akomodasi dan tiket perjalanan lainnya.



Bagaimana cara Kerja Online Travel Agent?
Secara sederhana pola kerjasama yang dilakukan oleh online booking travel agent adalah sistem 'titip jual' kamar dengan mengambil keuntungan dari selisih harga kamar yang telah ditetapkan dalam sebuah perjanjian. Pihak hotel wajib memberikan jatah kamar kepada OTA tersebut sesuai waktu dan jumlah yang ditetapkan (allotment). Adapun margin profit dari online booking travel agent tadi adalah dengan menetapkan sejumlah komisi dari harga yang sudah di publish di extranetnya OTA. Dewasa ini rata-rata komisi OTA yang berlaku adalah kisaran 15% s/d 17%.
Jika dalam situs OTA tersebut ada kode promo,sesungguhnya ini adalah bentuk subsidi oleh OTA kepada hotel atau akomodasi dalam menggaet calon pelanggan. Komisi tersebut secara hitung-hitungan memang untuk mentup biaya operasional, gaji,maintain situs,SEO,belanja iklan dan lain-lainya. Online Travel Agent yang sekarang berkembang hanyalah sebuah marketplace yang membantu kebutuhan dan mempermudah layanan booking calon tamu atau traveller  dalam tanpa dibatasi jarak dan waktu.Kini,melakukan pemesanan hotel dan tiket kapan dan dimanapun cukup dengan "satu klik" dan tentunya dengan fasilitas 'smartphone"yang fiturnya semakin berkembang pula.

Bagaimana dengan Airy Room,Reddoorz,NidaRoom?
Nah,lain halnya dengan OTA di atas, pelaku startup lainnya menangkap peluang ini dengan sudut pandang lain.Jika anda melihat sebuah sign board hotel dengan tulisan Airy Room,Reddoorz tampak dimana-mana, sesungguhnya bukan berarti hotelnya banyak. Hanya nama belakangnya yang membedakan saja,misalnya Airy Room Setiabudi,Airy Room Pasteur dan lain-lain. Pola inilah yang disebut sistem sharing economy. 

Pendekatan yang dilakukan oleh industry ini sedikit eksklusif yaitu dengan dengan bekerjasama dengan pemilik hotel-hotel budget untuk mengontrak beberapa unit kamar hotel dalam jangka waktu 6 bulan s/d 1 tahun atau lebih. Kemudian menyulapnya kamar-kamr tersebut dengan sentuhan dasar dan filosofi perusahaan (airy room atau reddoorz). Dan inilah yang belakangan disebut sebagai Virtual Hotel. Dengan pola kerjasama yang diterapkan,Virtual Hotel bebas menentukan harga kamar baik sama ataupun dibawah harga kamar hotel induknya,bebas menentukan kode promo dan juga layanan tambahan bagi kamar yang telah menjadi tanggungjawabnya. Sebenarnya ini jika dilihat dari pola, pola ini sejenis dengan sistem 'bulk voucher" zaman dulu.Namun momentum perkembangan teknologi dan customer behaviour inilah yang kemudian melahirkan sebuah modifikasi bisnis startup dengan sistem sharing economy.
Pada akhirnya,keputusan memilih sebuah produk dan layanan akomodasi dikembalikan kepada konsumen sebagai end user. Juga dari sisi pengelola akomodasi,pola-pola kerjasama apapun dapat dilakukan selagi dalam koridor yang sehat dan saling menguntungkan di era bisnis yang semakin competitive ini.