Copy code snippet January 2019 ~ KaGaroet

Menapak Jejak Curug Sanghyang Taraje



Garut terutama di daerah selatan atau pakidulan memang memiliki kekayaan destinasi wisata yang luar biasa. Berbagai sumber mencatat jika terdapat ratusan curug atau air terjun yang indah dan memiliki potensi nilai wisata yang baik dan sangat instagramable. Pada kesempatan liburan kali ini , admin KaGaroet mencoba menelusuri jejak wisata Curug Sanghyang Taraje. Letak curug ini berada di Kampung Kombongan,Desa Pakenjeng,Kecamatan Pamulihan Kabupaten Garut.Dapat ditempuh kurang lebih sekitar 50 KM  atau 1-2 jam perjalanan ke arah selatan Garut.
Menilik nama curug ini serasa memiliki muatan mistis dan historis yang mendalam yaitu  'Sanghyang Taraje. Dalam bahasa Sunda Taraje artinya tangga,yang biasa terbuat dari bambu. Sedangkan 'Sanghyang' artinya sang dewa. Telisik punya telisik, konon menurut legenda, curug ini merupakan tangga para dewa menuju kahyangan. Dan di sini pula letak di mana Sangkuriang, singgah untuk memetik bintang demi Dayang Sumbi. Ah, legenda adalah legenda, Wallahu A'lam.Yang pasti curug atau air terjun merupakan anugrah Tuhan melalui proses perubahan alam yang berlangsung cukup  lama.Keindahan ini kini dinikmati sebagai obyek destinasi wisata yang murah meriah terutama yang sering wisata petualangan.
Kurang lebih jam 9 pagi, admin ditemani keluarga kecil tercinta,berangkat dari Garut kota. Oh ya,saran yang lebih baik untuk berangkat ke''tkp' adalah menggunakan sepeda motor saja karena akses menuju ke sini sangat curam dan terjal .Jadi pertimbangkan keselamatan saja ,selain itu dengan menggunakan sepeda motor anda akan lebih bebas menikmati pemandangan perkebunan sayuran,teh,kopi dan sebagainya di sepanjang  jalan menuju jurug. Jalan yang dilalui semenjak memasuki pertigaan simpang Cikajang berkelok namun tak membosankan. Pasalnya, jalur ini memang merupakan wilayah yang indah karena hamparan hijau lahan sayuran dan perkebunan.
Dari arah Garut ada dua pilihan jalan menuju Cisurupan, bisa melewati Jl Raya Bayongbong via Sanding atau jalan raya Samarang via Hampor yang nanti akan bertemu di daerah pertigaan arah Cisurupan,dekat gerbang menuju wisata Papandayan.Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menujuaarah Cikajang. Pada saat memasuki pertigaan Simpang Cikajang, anda harus mengambil arah kanan ya,menuju arah Bungbulang.Ingat! jangan ambil jalur kiri, kalo ga mau nyasar sampe Pameungpeuk..hee.
Jalur menuju Bungbulang jalanan mulus,namun berkelok dan cukup ekstrim.Namun,suasana perkebunan hijau,sesekali diselimuti kabut menambah suasana dingin dan menyenangkan. Dari jalur ini anda juga akan melalui lokasi Curug Orok di desa Cikandang. Selanjutnya dari sini ke lokasi ditempuh kurang lebih 15 Km.Dari Cikandang anda menuju titik point Desa Cisandaan,selanjutnya ambil arah kanan menuju desa Pakenjeng,Kecamatan Pamulihan. Sekali lagi,hati-hati melalui jalur ini karena jalanan muali berkelok dan curam meskipun intensitas  kendaraan tidak terlalu padat.
Kurang lebih 20 menit dari arah kantor kepala desa Pakenjeng anda mengambil jalur kiri/lurus langsung menuju lokasi Curug Sanghyang Taraje.
Sampai di lokasi, anda akan menemukan Warung pinggir tebing yang sekaligus sebagi penjaga tiket Curug. Namanya bu Eja, yang sudah faham betul lokasi tersebut.Harga tiket cuma Rp.5000 rupiah hari biasa, parkir Rp.2000, Biar aman dan nyaman,titipkan juga helm kendaraan anda di sini.
Dari depan lokasi tiket menuju curug ditempuh dengan menapaki tangga yang sudah ditembok..tidak terlalu jauh ,hanya kurang lebih 300 meter, pemandangan curug dan suara air terjun sudah tampak.
Di lokasi sekitar curug tampak cukup nyaman,karena sudah ada fasilitas saung,tempat duduk,ayunan dan WC. Di sini juga anda dapat menikmati bekal kuliner yang sudah dipersiapkan atau membelinya di warung Bu Eja.
Curug Sanghyang Taraje memiliki ketinggian sekitar 300 meter,disekitar tebing terdapat hutan-hutan dan tumbuhan heterogen yang usianya cukup tua. Suasana yang asri dan sejuk menjadikan lokasi Curug Sanghyang Taraje menjadi obyek destinasi wisata yang mulai dikunjung oleh wisatawan dan berbagai lokasi bahkan ,kata Bu Eja,penjaga tiket dan warung,ada juga wisatawan dari Pangandaran  sengaja datang ke Curug Sanghyang Taraje ini. Dengan potensi dan kekayaan curug yang banyak di kabupaten Garut ini,hendaknya pemerintah daerah sudah mulai menata akses menuju lokasi wisata juga melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar destinasi wisata agar wisata Garut benar-benar  menjadi pilot pembangunan daerah.


Kolaborasi Pentahelix Dalam Mendorong Pariwisata Indonesia



Sebagai sebuah leading sector dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional, sektor pariwisata terus digenjot untuk  mencapai target-target yang sudah direncanakan oleh pemerintah dalam hal ini Kementrian Pariwisata. Target 20 juta kunjungan wisman tahun 2019, pergerakan wisman 275 juta da indeks daya saing pariwisata Indonesia  pada ranking 30 dunia. 100 ribu homestay yang tersebar di 10 Destinasi Prioritas atau Bali Baru  yang sudah dicanangkan yaitu Danau Toba Sumut,Tanjung Kelayang  Belitung,Tanjung Lesung Banten ,Kepulauan Seribu Jakarta, Borobudur Jawa Tengah,Bromo Jawa Timur, Mandalika Lombok,Labuan Bajo NTT,Wakatobi Sultra dan Morotai di Maluku Utara
Dalam berbagai forum,Menteri Pariwisata menjelaskan bahwa jika keberhasilan pariwisata Indonesia tidak akan tercapai tanpa melibatkan unsur-unsur Pentahelix.
Pariwisata Indonesia tidak akan lepas dari berbagai kepentingan yang ada di sekitar destinasi wisata dan para stakeholder.Maka peran dan sinergitas unsur Pentahelix tersebut menjadi sangat penting. Nah apa itu Pentahelix menurut Arief Yahya?
Unsur pentahelix disebut juga ABCGM yaitu sebuah sinergitas yang diusung oleh Academic,Business,Community,Government & Media. Tanpa adanya keterkaitan unsur-unsur di atas,pariwisata Indonesia tidak akan berhasil maksimal.Diperlukan peran dari kelima unsur tadi yang saling mendukung satu sama lain.
Pemerintah berperan dalam upaya melakasanakan kebijakan yang telah dituangkan dalam undang-undang.Akademisi berperang dalam menggali dan memberikan kontribusi keilmuan dari hasil penelitian dan pengembangan. Sementara Para Pengusaha atau Entrepreneur memberikan peluang menanamkan peluang investasi di sector ini sehingga dapat menyerap alokasi tenaga kerja dan menggerakan roda perekenomian di sekitar destinasi wisata.
Adapun komunitas atau Community merupakan sekumpulan orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama dan dalam hal ini, entrepreneur mencari komunitas yang sama dengan mereka dan relevan dengan bisnis yang dikembangkan. Jangan asal ikut komunitas tetapi aktiflah di komunitas tersebut. Banyak komunitas yang mulai berkembang dan bisa mendapatkan keuangan, pemasaran, informasi dan bahkan bahan baku yang dibutuhkan oleh setiap entrepreneur.
Unsur terakhir dan sangat berperan penting dalam mengusung keberhasilan pariwisata adalah Media. Peran media sangat pentig dalam menyebarluaskan berbagai program dan kegiatan pariwisata yang telah dicanangkan. Di era digital dan informasi teknologi saat ini,peran media baik online maupun offline sudah tidak mungkin dibendung lagi.Akan tetapi yang tetap harus dijaga adalah tugas pokok dan fungsi media harus benar-benar menjadi penyambung sumber informasi berimbang,valid,jujur dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan etika dan tata nilai yang berlaku.


Menguak Fakta dan Mitos Gunung 'Piramida' Sadahurip


Jika anda yang pernah berkunjung ke daerah kawah Talaga Bodas Garut, di sekitar lokasi tersebut anda akan melihat sebuah pemandangan unik layaknya sebuah piramida Mesir. Itulah gunung Sadahurip,yang berlokasi di Desa Sukahurip Kecamatan Pangatikan Kabupaten Garut.
Gunung Sadahurip sudah lama menjadi buah bibir masyarakat dari komunitas ilmuwan maupun  para penggali misteri.
Dilihat dari bentuknya memang Gunung Sadahurip memiliki 4 sisi dan 4 sudut  dan ujung atasnya lancip menyerupai piramida mesir.Isu pun berkembang menyeruak terkait keberadaaan gunung ini, ada yang mengatakan memang ini merupakan piramida kuno dan lain sebagainya. 
Sumber-sumber mitos terkait gunung tersebut berseliweran di jagat maya .Masyarakat tradisi Indonesia memang senang mengaitkan hal-hal unik dan aneh dengan dunia kosmis. Konon keberadaan gunung sada hurip menyimpan energi aura tersendiri.Aura angker dan fenomena misteri konon tampak muncul dari atas puncak gunung Sadahurip berupa sinar menyerupai bola yang muncul setiap malam Selasa dan malam Jumat. Entah benar atau tidak fenomena ini adanya,namun selayaknya hal-hal mistis tidak menjadikan masyarakat mempercayai hal-hal aneh yang merusak keyakinan kita sebagai umat yang berketuhanan.
Beberapa ahli geologi dan peneliti telah melakukan riset terkait uji geolistrik di gunung Sadahurip,namun tidak ditemukan bukti ilmiah terkait piramida batuan di sini.Beberapa hasil fakta ilmiah antara lain yang dikemukakan oleh Sujatmiko,Sekjen Kelompok Riset Cekungan Bandung yang juga anggota IAGI.
1. Susunan Gunung Sadahurip dari bawah sampai puncak tipe batuan solid, jadi sangat sulit dikatakan ada piramida di dalam gunung itu.

2. Untuk membangun suatu piramida seperti Giza, dibutuhkan 200 ribu orang dalam waktu 20 tahun, dengan membawa blok-blok batu sebanyak 2,3 juta ton. Untuk Sadahurip itu impossible, bila bebatuan Sadahurip 6-7 ribu tahun sesuai uji karbon, saat itu Indonesia masih zaman menggunakan alat batu.

3. Setiap proyek raksasa yang dikerjakan meninggalkan jejak artefaktual atau sisa-sisa pengerjaan, di Sadahurip tidak ada jejak itu. Ada bekas bebatuan yang katanya mirip tulisan Mesir kuno, namun setelah diteliti itu silica yang terkena pelapukan.

4. Bebatuan besar yang ada di Sadahurip, yang katanya diangkut dari Gunung Rahong untuk pembuatan piramida bisa dipatahkan. Semua bisa dijelaskan dengan proses geologi. Bebatuan itu ada karena lava yang mengalir dan masuk ke gunung. Sadahurip merupakan gunung purba.

5. Pintu masuk ke piramida yang disebutkan ternyata hanya goa biasa. Dalamnya hanya beberapa meter dan tidak ditemukan indikasi adanya bebatuan yang dipahat manusia.



Terlepas dari argumentasi ilmiah dan mitos yang berkembang, Gunung Sadahurip kini menjadi obyek destinasi wisata baru karena keunikaannya. Apalagi letaknya berdekatan dengan obyek destinasi wisata kawah Talaga Bodas.